Ads Top

Kisah Nabi Ibrahim, Sang Pencari Tuhan dan Bapak Para Nabi

Saat Idul Adha kita mengenang kisah Nabi Ibrahim yang di beri ujian oleh Allah SWT. Ia harus merelakan putra kesayangannya, Nabi Ismail untuk disembelih sendiri atas perintah Allah SWT. Kali ini tim Biografi.co.id akan mengulas sosok Nabi Ibrahim yang juga dikenal Bapak Para Nabi. Berikut ulasanya.


Awal Kehidupan dan Masa Remaja Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim lahir di suatu tempat bernama Faddam, A'ram yang terletak di kawasan kerajaan Babilonia, pada 2.295 sebelum masehi.

Ia dikenal dengan julukan Khalilullah (kekasih Allah), merupakan salah satu nabi Ulul Azmi. Ia adalah leluhur bangsa Arab dari putranya, Nabi Ismail as, sekaligus leluhur Bani Israil dari putranya yang lain, Nabi Ishak as.

Dilansir dari Sribd.com, semasa remaja Nabi Ibrahim sering disuruh oleh ayahnya untuk menjajaknan patung-patung hasil pahatan ayahnya, namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Allah SWT kepadanya.

Ia tidak semangat menjajakan patung-patung milik ayahnya. Saat menawarkan patung-patung itu kepada calon pembeli ia berkata "siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini?"


Pencarian Tuhan Sesungguhnya


Sewaktu kecil  Ibrahim sering melihat ayahnya membuat patung, Ibrahim malah berusaha memcari kebenaran agama yang dianut oleh keluarganya dan orang-orang yang membeli patung tersebut.

Kebibimbangan Ibrahim mencari Tuhan yang sesungguhnya, pada suatu malam Ibrahim melihat bintang dan bulan yang bersinar sangat terang dan berkata "Inikah tuhanku" kemudian apalabila buntang dan bulan terbenam hilang, berkatalah ia "Demi sesungguhnya, jika aku tidak diberi petunjuk oleh Tuhanku, maka kadilah aku termasuk kaum yang sesat".

Kemudian saat matahari terbit dengan cahaya yang terang benderang, ia berkata "Apakah ini Tuhanku? yang ini lebih besar dan bercahaya" tapi setelah matahari tebenam berkatalah Nabi Ibrahim " Wahai kaumku sesungguhnya berlepas diri dari apa yang kamu sekutukan selain Tuhan" 

Inilah daya logika yang di karuniakan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim dalam menolah penyembahan langit yang di percayai oleh kaumnya serta menerima Tuhan yang sesungguhnya.


Ketika Kekuasaan Allah SWT terlihat

Sebelum Nabi Ibrahim memerangi kesyirikan di dalam kaumnya, ia ingin mempertebal keimanan dan keyakinannya dulu, untuk menentramkan dan membersihkan hatinya dari segala keraguan-keraguannya dengan meminta kepada Allah SWT untuk bagaimana ia dapat menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati.

Allah mengabulkan doanya, kemudian Nabi Ibrahim di suruh oleh Allah SWT untuk menangkap empat ekor burung, kemudian ia memotong burung-burung itu menjadi beberapa bagian, kemudian ia menyebarkan beberapa bagian burung itu di empat bukit yang berjauhan, setelah itu Allah  memerintahkan Nabi Ibrahim untuk memanggil burung-burung itu kembali dan dengam kuasa Allah SWT datanglah berterbangan burung-burung yang telah ia potong menjadi beberapa bagian.

Dengan izin Allah dan kekuasaan-NYA datanglah berterbangan ke empat ekor burung-burung itu dalam keadaan utuh dan bernyawa seperti sediakala, dan dengan demikian tercapailah keinginan Nabi Ibrahim.


Awal Dakwah Nabi Ibrahim


Ibrahim awalnya berdakwah kepada ayahnya. Dengan lembut dia menegaskan agar ayahnya meninggalkan sesembahan lamanya yang tidak dapat mendengar, melihat, dan memberi pertolongan sedikitpun.

Ibrahim juga menyatakan bahwa dia telah mendapat sebagian ilmu (wahyu) yang tidak dimiliki ayahnya, sehingga Ibrahim meminta agar ayahnya mau menurutinya.

Meski demikian, ayahnya menolak ajakan Ibrahim, bahkan mengancam akan merajamnya, dan menyuruh Ibrahim meninggalkannya. Ibrahim kemudian menjauhkan diri dari ayahnya sembari memintakan ampun ayahnya kepada Allah.

Ibrahim juga berdakwah pada kaumnya. Sebagaimana seruan para rasul yang lain, Ibrahim menyeru kaumnya untuk bertakwa kepada Allah, mengesakan-Nya, dan meninggalkan sesembahan lain.

Ibrahim juga menegaskan bahwa sesembahan mereka tidak mampu memberi rezeki pada penyembahnya. Kaumnya menyatakan bahwa mereka melakukan penyembahan ini lantaran telah menjadi tradisi sejak leluhur mereka.

Ibrahim kemudian bertekad untuk melakukan tipu daya pada berhala-berhala sembahan kaumnya saat mereka pergi. Sebagian berpendapat bahwa Ibrahim hanya mengatakan tekadnya dalam hati. Ada yang berpendapat bahwa Ibrahim mengatakannya secara lisan dan itu didengar sebagian kaumnya.

Setelah melihat kaumnya belum berubah untuk mengubah keyakinan dari patung-patung itu. Ibrahim lalu menghancurkan semua berhala-berhala yang ada di sana dengan kapak kecuali berhala yang terbesar.

Ibrahim kemudian meletakkan kapaknya di tangan berhala terbesar yang masih utuh tersebut untuk memberi kesan bahwa berhala induk tersebut cemburu dengan berhala-berhala kecil yang dianggap tidak pantas disembah bersamanya.

Saat penduduk kembali, mereka terkejut ketika melihat keadaan berhala-berhala tersebut dan bertanya-tanya mengenai jati diri pelakunya.

Sebagian penduduk kemudian mengatakan bahwa Ibrahim dikenal suka mencela sesembahan mereka. Ibrahim kemudian ditanya, "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, Ibrahim?" Ibrahim kemudian membalas, "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya.
Maka tanyakanlah kepada berhala itu jika dia dapat berbicara." Setelahnya, mereka membalas, "Sesungguhnya kaum telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara."

Mendengar jawaban kaumnya, Ibrahim segera berkata "Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?"
— Al-Anbiya' (21): 66-67

Kaumnya marah setelah mendengar bantahan Ibrahim. Para penduduk tidak bisa menang debat dengan Ibrahim, sehingga mereka mengalihkan permasalahan dan menggunakan kekuatan untuk membungkam Ibrahim dengan cara berusaha dilemparkan ke dalam api.

Menurut keyakinan bangsa Yahudi disebutkan sebelum dilemparkan ke api, Ibrahim sempat dipenjara selama setahun tanpa makan dan minum.

Pada masa itu, Allah kemudian mengutus malaikat untuk memberi Ibrahim makan dan minum sehingga dia tetap hidup. Kemudian diusulkan kepada Namrudz bahwa Ibrahim harus dibakar hidup-hidup di hadapan khalayak agar para penduduk dapat terus mempercayai Namrudz.


Api Tidak Menyentuh Tubuh Nabi Ibrahim


Setelah diputuskan Ibrahim akan dihukum bakar, para penduduk segera mengumpulkan kayu bakar dari segala penjuru selama berhari-hari, sampai seorang wanita yang sedang sakit juga bernazar akan ikut mengumpulkan kayu bakar jika sudah sembuh.

Kemudian mereka menggali lubang yang sangat besar tempat kayu-kayu tersebut dinyalakan.

Api menyala sangat besar sehingga tidak ada yang bisa mendekat, sehingga Ibrahim diikat dan dibelenggu, kemudian dilemparkan ke tengah api menggunakan manjanik.

Saat dilempar, Ibrahim mengucapkan "Cukuplah Allah sebagai pelindung kami." Allah kemudian memerintahkan, "Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim!"  Kobaran api tersebut hanya membakar ikatan Ibrahim, tapi tidak tubuh maupun pakaiannya.

Ada yang mengatakan bahwa Ibrahim berada dalam kobaran api selama empat puluh sampai lima puluh hari. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa ayah Ibrahim kemudian berkata, "Sebaik-baik Tuhan adalah Tuhanmu, Ibrahim."

Ibrahim mengatakan, "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan." Orang tersebut membalas, "Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan." Maksud dari jawabannya adalah dia membunuh seseorang dan memberikan ampunan kepada orang lain.

Ibrahim kemudian melanjutkan, "Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat." Maka orang tersebut kebingungan dan tidak dapat menjawab balik Ibrahim. As-Suddi menjelaskan bahwa perdebatan ini terjadi setelah peristiwa pembakaran Ibrahim.


Nabi Ibrahim Hijrah


Menurut cerita Alquran, di zamannya, Nabi Ibrahim as menunjukkan pada masyarakat tentang kekeliruan syirik dan penyembahan pada obyek-obyek astronomi yang saat itu telah menjadi kebiasaan, seraya menyeru mereka untuk menyembah Allah Yang Esa.

Cerita ini tidak terdapat dalam Perjanjian Lama, namun sudah menjadi hal yang tidak asing di kalangan Yahudi. Bahkan Yosefus juga mengisyaratkannya. Kemudian di era setelahnya, cerita itu sudah dapat ditemukan dalam buku-buku Yahudi.

Sebagian riwayat menjelaskan, peristiwa itu terjadi di saat Nabi Ibrahim as berdialog dengan kaumnya. Sebelumnya ia menampakkan diri pada masyarakat seakan-akan juga mengimani keyakinan mereka.

Namun kemudian ia mengganti keyakinannya itu dengan keyakinan baru bertauhid pada Allah SWT. Tujuannya supaya masyarakat sadar bahwa apa yang mereka yakini adalah salah, dengan begitu dengan mudah mereka akan menerima konsep ke-esaan Allah SWT (Thusi, 4/185, 186).

Menurut penuturan Mas'udi, Sarah, istri Nabi Ibrahim as, dan Nabi Luth as, keponakan beliau (putra Haran, saudara Ibrahim) adalah orang pertama yang menerima dakwah Nabi Ibrahim AS.

Menurut Alquran, dialog dan debat yang dilakukan dengan ayah, pejabat dan masyarakat di masa itu berujung pada hijrahnya Nabi Ibrahim as. Perjanjian Lama tidak menyinggung tentang hal ini. Yang disebutkan hanya tentang perjalanan ayah Nabi Ibrahim as ke Haran.

Diceritakan, setelah wafat anaknya yang bernama Haran, bersama keluarganya dia meninggalkan Ur-Kasdim. Dalam Alquran hanya diterangkan mengenai sebab perjalanan, tidak disebutkan tentang daerah asal dan tujuan mereka.


Nabi Ibrahim Kembali Diuji

Ismail merupakan anak pertama dari isrri kedua Nabi Ibrahim bernama Hajar, seorang budak yang telah dimerdekakan oleh Nabi Ibrahim.

Saat itu  Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa anaknya Ismail dan Istrinya Hajar jauh dari rumah ke padang tandus di Mekkah, untuk menghindar dari Sarah yang telah termakan api cemburu karena Hajar lebih dulu memiliki seorang anak. 

Sampailah Nabi Ibrahim meninggalkan anaknya Ismail dan istrinya Hajar di padang tandus yang belum ada kehidupan sama sekali termasuk tidak ada sama sekali pohon dan air.

Saat Hajar dan Ismail di tinggalkan disana, tiba-tiba Ismail menangis kehausan, Hajar yang saat itu bingung dimana ia bisa mendapatkan air untuk putranya, maka berlari ia dari bukit Safa sampai ke bukit Marwah (sampai sekarang peristiwa ini menjadi slaah satu bagian dari rukun haji yaitu syai berlari-lari kecil dari bukit Safa ke Marwah)

Seketika Ismail menendang-nendangkan kakinya ke tanah yang pada saat itu Ismail masih bayi, keluarnya mukjizat dari bekas tendangan kaki Ismail keluarlah air dengan derasnya. Air ini masih ada sampai sekarang dan di sebut sebagai Air Zam-Zam.  Hajar pun yang melihat itu langsung mengucapkan syukur dan memberi minum Ismail.


Ketika Ismail beranjak dewasa, Allah  kembali memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra kesanyangannya Ismail, yang dimana baik putranya Ismail ikhlas dengan perintah Allah SWT demi ketaatannya kepada sang ayah, dan terjadilah peristiwa dimana Ismail akan di sembelih namun ternyata Allah  menggantikan Ismail dengan kambing/domba untuk disembelih Nabi Ibrahim.

Hari dimana Ismail akan dipersembahan sebagai kurban, diperingati terus menerus sampai sekarang sebagai hari raya Idul Adha dan merupakan puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan oleh umat Muslim.

Rukun Islam yang kelima, ibadah Haji itu juga sebenarnya untuk mengingatkan akan perjalanan Ibrahim dan Ismail ke tempat pengorbanan di Mekkah.***

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.