Ads Top

Kisah Founder Xiaomi, dari Programmer Jadi CEO Perusahaan Triliunan Rupiah

Founder Xiaomi, Lei Jun.
Lei Jun pantang tidur di dalam kelas agar teman-teman sekelasnya tidak lebih unggul dari dirinya. Ia bereksperimen membuat program-program komputer di era kemunculan internet, demi mengejar impian dan kekayaan.

Dalam perjuangan mencari hal-hal baru, ambisinya mendorong untuk berusaha lebih keras lagi dan lagi. Lei tampak selalu mencari terobosan selanjutnya.

Delapan tahun lalu, saat ia berusia 40 tahun, founder Xiaomi itu bisa saja memilih pensiun. Ia meniti karier di Kingsoft, perusahaan penyedia software, dan memimpin perusahaan itu selama 16 tahun.
Dengan kekayaan sekitar US$45 juta (setara Rp633 miliar), ia berhasil membuat Kingsoft terdaftar di bursa saham, menjual beberapa saham kepemilikannya, dan berinvestasi di banyak perusahaan. Bisa dibilang, Lei adalah sosok yang sukses dalam dunia teknologi Cina.

Meski telah meraih sukses, dalam waktu singkat Lei mulai memiliki impian lagi. Impiannya? Membangun perusahaan yang memiliki nilai kapitalisasi pasar menyaingi Alibaba dan Baidu.

Jack Ma membangun Alibaba, raksasa e-commerce yang dulu bernilai US$20 miliar (sekitar Rp281 triliun). Pony Ma, pendiri Tencent, melakukan penawaran saham publik di Hong Kong hanya lima tahun setelah meluncurkan QQ, layanan berkirim pesan.

Dibanding raksasa-raksasa teknologi ini, Kingsoft tampak kurang mengesankan. Saat saham Kingsoft ditawarkan ke publik, nilainya hanya US$90 juta (sekitar Rp1,2 triliun). Tidak mengherankan jika Lei Jun selalu berusaha mengejar ketinggalan.

Pukulan telak

Terlahir di suatu desa di Selatan Cina, Lei mendapatkan gelar sarjana ilmu komputer dari Wuhan University Cina di akhir tahun 80-an. Setelah lulus kuliah, dia mengikuti jejak banyak profesional IT lain yang percaya bahwa bekerja sebagai programmer bisa membuatnya sukses.

Kenyataan pahit harus ia terima setelah Windows memasuki pasar Cina pada tahun 1994. Langkah Windows memberikan pukulan telak pada WPS, produk software pengolah kata andalan Kingsoft. Perasaan gagal itu membebani Lei, membuatnya tak mampu beranjak dari sofa sepanjang hari sampai subuh.

Untung Lei mendapatkan pencerahan yang membantunya mengubah kondisi perusahaan. Dia sadar produk-produknya adalah inti kesuksesan perusahaan.

Yang juga penting adalah pemahaman menyeluruh terhadap permintaan pasar. Lei mengubah metodenya untuk lebih fokus pada pemasaran. Dia dan tim di Kingsoft mulai menjual produk-produk dengan daya tarik pasar yang kuat, termasuk pemutar video dan kamus online.

“Setelah beristirahat empat minggu, saya masih merasa lelah.”

Produk-produk game buatan Kingsoft berhasil membuat perusahaan itu go public. Demi mempertahankan bisnis game, Lei menjual bisnis e-commerce Kingsoft yang bernama Joyo ke Amazon seharga US$75 juta (setara Rp1 triliun).

Dalam lima tahun, Kingsoft berusaha masuk bursa saham sebanyak delapan kali. Usaha-usaha itu akhirnya menuai sukses pada tahun 2007 di Hong Kong.

Langkah itu tidak terlalu membuat Lei senang. “Saat kami terdaftar di bursa saham, saya cukup lelah. Tetapi setelah beristirahat empat minggu, saya masih merasa lelah.” Tak lama kemudian dia mengundurkan diri. Tetapi ternyata Lei memikirkan hal lain.

Lei selalu tertarik pada potensi internet, yang ia salurkan dengan menciptakan Joyo untuk menjual produk-produk Kingsoft. Ia iri ketika beberapa temannya, termasuk Pony Ma dari Tencent dan Zhang Chaoyang dari Sohu, menjadi terkenal karena perusahaan-perusahaan yang mereka dirikan besar.

Mengejar Pony Ma

Lei menajamkan perhatian pada satu ceruk pasar, yaitu web mobile. Setelah mempelajari model bisnis milik raksasa internet lainnya di Cina, ia menanam investasi di Meizu sebelum membangun Xiaomi.

Ketika membangun perusahaan barunya, Lei mencoba menggabungkan internet mobile dengan hardware. ia menciptakan “ekosistem”, yang kini menjadi kata kunci di dunia teknologi. Lei menggabungkan ponsel dengan aplikasi PC dan MiTalk, sambil berkata bahwa model Xiaomi seperti itu belum lama ada di negara tersebut.

Kesuksesan Xiaomi tidak lain disebabkan oleh jaringan luas yang Lei bangun dalam karier panjangnya. Ia menyewa karyawan-karyawan bertalenta dari Microsoft, Google, dan Motorola. Xiaomi dengan cepat menjadi merek populer di Cina, meraih pangsa pasar besar dan memperluas pasarnya ke luar negeri.

“Lei mengirim memo internal sepanjang 1.300 kata yang berisi 11 tanda seru.”

Kesuksesan kilat yang dicapai Lei masih banyak menimbulkan banyak pertanyaan. Beberapa orang mengatakan model perusahaan tersebut “tidak normal”. Ada juga yang menyebut strategi Xiaomi sebagai hunger marketing”.

Momentum Xiaomi terhambat pada tahun 2016, menyusul penurunan angka penjualan. Sejak itu, Lei merombak kepemimpinan dan melakukan reformasi untuk menopang penjualan.

Pada Juli 2017, Lei mengirim memo untuk internal berisi 1.300 kata dengan 11 tanda seru. Ia mengumumkan bahwa Xiaomi telah meraih rekor tertinggi baru: 23 juta ponsel terjual di kuartal kedua.

Delapan bulan kemudian, Lei kembali mengenalkan model Xiaomi dan di memo internal lain, dia mengumumkan hengkangnya dua co-founder Xiaomi. Itu memicu spekulasi bahwa Xiaomi sedang berusaha melakukan IPO.

Seiring peningakatan spekulasi IPO, berbagai pertanyaan tentang Xiaomi pun meningkat. Di antaranya:
  • Bagaimana posisi perusahaan di tengah meningkatnya persaingan dari produsen ponsel seperti Huawei, Oppo dan Vivo?
  • Rencana-Rencana apa yang dimiliki Xiaomi untuk cip ponsel?
  • Usaha baru apa yang bisa dikembangkan setelah perusahaan itu meluncurkan produk dari gelang hingga handuk?
  • Di mana perusahaan bisa beralih ke pertumbuhan baru?
Orang-orang akan menyaksikan Xiaomi menguji bisnis modelnya. Dengan peluncuran IPO Xiaomi, akankah Lei Jun akhirnya merasakan kesuksesan?

Artikel ini diterjemahkan dan diadaptasi dari kisah aslinya di Bufanbiz (TIA).

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.