Ads Top

Ibnu Riyanto, Gagal Masuk Sekolah Favorit (3)

IBNU kecil benar-benar menjadi anak pamungkas yang paling disayang. Ibnu tidak boleh menangis. Dan tidak ada yang berani menyakiti di antara keluarga besar. Tak satu pun ada yang cemburu. 

Ibnu sangat menikmati limpahan kasih sayang berlebih dari kedua orangtua dan juga enam saudaranya. Kasih sayang itu sangat melenakan dan kadang memabukkan. Karena itu Ibnu boleh merengek, boleh merajuk, boleh nakal karena tidak ada yang melarang.

Tapi Ibnu juga adalah anak cerdas. Berhitung adalah mata pelajaran favoritnya. Karena itu nilai  di rapor pun lebih banyak tertulis angka sembilan atau sepuluh dibandingkan angka lainnya. Paling malas belajar mata pelajaran hapalan tetapi bukan berarti nilai pelajaran itu jelek.

Petaka terjadi ketika ujian nasional berlangsung. Ibnu sangat terlena. Merasa nilai ujian sehari-hari sangat baik, Ibnu mengabaikan persiapan. Sementara ujian nasional itu bukan hanya Matematika. Ada mata pelajaran lain yang juga harus mendapat perlakuan yang sama.

Ibnu gagal mendaftar ke sekolah menengah pertama yang menjadi favorit anak-anak di Cirebon Raya. Ibnu sempat terpukul dan frustrasi tapi setelah memiliki teman baru di sebuah SMP swasta terkenal, Ibnu mulai melupakan kegagalan dan keteledorannya. 

Sampai kelas satu SMP prestasi Ibnu masih menonjol. Pelajaran berhitung selalu menjadi andalannya. Ini juga yang menjadi modalnya untuk naksir seorang cewek  cantik yang menjadi rebutan cowok di kelasnya. 

Berbagai manuver, Ibnu pertontonkan kepada cewek tersebut. Semua kelas mengakui prestasi Ibnu. Termasuk cewek berambut hitam sebahu yang ditaksirnya. Beberapa kali Ibnu hubungi lewat pesan singkat (SMS) tetapi tidak juga merespons. 

Suatu hari Ibnu memberanikan diri untuk mengajaknya bertemu. Cewek tersebut dengan ogah-ogahan menerima ajakan Ibnu. “Nu, kita berteman saja. Kan enakan berteman.  Kalau pun cinta kan tak harus memiliki.”

Gubrakkkk!

Ungkapan klise cewek tersebut seperti geledek di siang bolong.  Ibnu tahu ungkapan klise yang lahir sejak tahun 70-an itu adalah sebuah bentuk penolakan yang halus tapi bagi Ibnu seperti sengatan  tawon mabok.

Yang membuat Ibnu tambah sakit dan juga dendam belakangan cewek yang ditaksirnya berpacaran dengan anak gaul dan bandel di sekolahnya. Ibnu mungkin tak sakit hati bila perempuan itu pacaran dengan anak yang lebih pintar. Tapi  ini kok bisa dengan anak yang cuma jual gaya dan juga urakan?

Ibnu pun labil. “Untuk apa pintar tapi tak bisa dapat cewek?”  Ibnu menggugat paada dirinya sendiri. 

Sejak itu pula Ibnu melupakan cita-citanya menjadi insinyur pesawat terbang seperti Habibie. Padahal sebelumnya Ibnu bermimpi membuat pesawat terbang dan ingin sekali bertemu Habibie. Ibnu paling merindukan bertemu dengan Habibie atau cukup bila sang idolanya muncul di televisi. Saat Habibie tampil di televisi dengan gayanya yang khas—mata melotot, suara yang meledak-ledak dan sosok yang mungil trengginas--Ibnu spontan berteriak, "Pak Habibie! Pak Habibie!"

Memasuki kelas dua SMP, Ibnu nyaris tidak memiliki cita-cita. Sekolah seperti biasa. Galibnya makan atau mandi saja. Dan masih pediam.  Ibnu  masih percaya bahwa anak pintar itu pasti pendiam. Namun, sifat pendiam itu membuat Ibnu yang mulai puber tersiksa. 

"Kenapa anak  pintar itu sulit bergaul dan tidak pernah dikelilingi perempuan? Sementara anak badung dan gaul malah dikerebuti perempuan seolah raja minyak."  Itulah kalau Ibnu kembali kumat. “Padahal gue yakin itu anak tak punya duit.”

Sejak saat itu pula Ibnu langsung berikrar pada dirinya sendiri dan juga kepada lambang burung garuda di kelasnya, "Gue harus berubah!" 

Sekejap Ibnu berubah dari anak rumahan yang pendiam menjadi anak yang gaul dengan keputusann bulat ikut dalam kelompok geng motor Cirebon Rider Society dan juga menjadi anggota kelompok musik.

"Saya merengek minta dibelikan sepeda motor Satria. Saat itu paling keren dan orang tua karena memanjakan saya dengan mudahnya dalam beberapa hari sepeda motor sudah ada di rumah," katanya. "Saya sangat disayang ketua geng motor pula  karena dia sering meminjam sepeda motor saya."

Dalam kelompok band di sekolah Ibnu sebenarnya berambisi menjadi vokalis. Tujuannya tiada lain bahwa dimana-mana vokalis itu paling dipuja dan tentu saja kalau pentas paling mendapat perhatian termasuk dikejar-kejar cewek.  Namun sampai kelompok musik itu bubar cita-cita Ibnu tak pernah kesampaian. Ibnu didapuk menjadi pemain bass. Seorang temannya  berusaha menghibur ketika Ibnu tak kunjung jadi vokalis, "Suara lo enak dan hebat tapi lebih hebat lagi lo itu sebagai pemain bass."

Belakangan Ibnu sangat paham dengan omongan temannya itu. Ibnu sadar diri bahwa memang tidak pantas menjadi vokalis. Dan itu tidak bisa dipaksakan. Karena itu Ibnu cukup selalu berada di belakang vokalis dan paling banter sejajar dengan vokalis dalam setiap kali pentas.

Hanya untuk menjadi anak gaul dan diakui lingkungan, Ibnu telah mengorbankan pendidikannya. Tak ada lagi kebanggaan. Apalagi prestasi. Karena itu setiap menjelang kenaikan kelas dari mulai SMP hingga SMA selalu  saja ada guru yang datang ke rumah dan menemui orangtua menawarkan dua pilihan.

“Saya beri dua pilihan, apakah anak Ibu pindah sekolah atau naik bersyarat....”

Setiap  mendapat dua pilihan itu sang Ibu selalu  memilih dan seolah sudah menjadi mantra, “Saya pilih naik bersyarat saja....”

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.