Ads Top

Lukman Edy, sang Politisi Paripurna

SOSOKNYA sangat familiar di kalangan politisi Senayan. Masih muda pula tapi karier politik dan pengalamannya dalam pemerintahan sangat menonjol. Lukman Edy, politisi Partai Kebangkitan Bangsa kelahiran Teluk Pinang, Riau, 26 November 1970 bukanlah kategori  politisi instan.

Lukman Edy lahir di tengah keluarga yang berkecukupan. Tapi tidak lantas membuatnya hedonis dan malas-malasan. Justru karena berkecukupan itu, jiwa kewirausahaan dan juga kepemimpinannya terpelihara dan terus berkembang.

"Saya pernah buka warung, kebetulan orang tua punya yayasan yang mengelola sekolah swasta. Saya minta izin sama orang tua untuk bikin warung. Ternyata diperbolehkan. Saya juga memaksa Ibu untuk memasak di rumah untuk dijual di warung sekolah yang saya kelola," kenang Lukman Edy.

Aktivitas berjualan jalan, sekolah pun jalan. Malah kesibukannya berjualan tidak mengganggu prestasinya di sekolah. Merasa kegiatan OSIS di sekolah memble, Lukman Edy yang saat itu kelas dua SMA membuat OSIS tandingan.

"Saya bikin OSIS sendiri. Saya kumpulin teman-teman untuk membuat anggaran rumah tangga dan saya ajukan ke kepala sekolah," ujarnya. "Hasilnya saya malah diomelin kepala sekolah," tambah mahasiswa program doktoral di Universitas Malaya, Malaysia.

Dalam darah Lukman Edy mengalir gen politik. Ayahnya pernah menjadi anggota DPRD Riau dari Partai Golkar. Juga pamannya selain politisi juga jadi pamong. Ditambah laki latarbelakang organisasi yang dirintisnya sejak sekolah dan semasa kuliah menjadi aktivis senat mahasiswa.

"Rumah saya itu semacam mimbar komunikasi. Tempat para aktivis kampung, berkumpul setiap sore," ujar lulusan Universitas Brawijaya ini.

Dalam usia 28 tahun, Lukman Edy sudah terpilih menjadi anggota DPRD  Riau. Karier Lukman Edy terbilang moncer atau mungkin ada yang bilang terlalu cepat. Pernah menjadi Sekjen DPP PKB. Kemudian dipercaya menjadi Menteri Negara Pembangunan daerah Tertinggal pada era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

"Kalau soal saya mendapatkan porsi seperti itu saat masih muda, saya kira itu bukan bagian dari yang saya setting. Mengalir saja, karena dari kecil itu didorong oleh orang tua untuk selalu ikut berorganisasi, walaupun main harus ada kegiatan positif. Itu mengakibatkan rasa percaya diri kuat, jadi dalam lingkup yang lebih tua, lebih senior, saya tidak merasa saya kecil," kata peraih Bintang Mahaputra Adipradana pada tahun 2014.

Soal penghargaan dari pemerintah ini, menurut Lukman, konsekuensinya sangat berat.  "Bidang adipradana tantangannya cuma satu. Kita tidak boleh korupsi dan tidak boleh melakukan tindakan kriminal. Begitu kita terbukti dan melakukan tindakan kriminal bintang adipradana langsung dicabut oleh pemerintah," kata peraih Rekor Muri atas sosialisasi nonstop 26 jam tanpa putus.

Ada pendapat klasik yang menyebutkan di balik pria sukses ada perempuan hebat. Itu sangat dirasakan Lukman Edy. Peran istri sangat menopang dalam karier politiknya. Istri dan keluarga di rumah adalah segala-galanya.
    
"Keluarga yang bisa ngerem penyimpangan-penyimpangan. Jadi menurut saya keluarga itu levelnya di bawah Tuhan," kata Lukman Edy.

Lukman Edy menikah dengan Hj. Gustini Zulianty dan dikaruniai tiga anak. Komisaris PT Megah Karya Prima ini selalu menyempatkan waktu-waktu istimewa untuk keluarganya.

"Saya itu selalu memberikan waktu khusus untuk keluarga. Sedikit, tapi berkualitas," kata Lukman Edy yang tinggal di kediaman pribadinya di Depok, Jawa Barat.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.