Ads Top

Hendrawan Supratikno, Profesor Banyak Senyum

MENARIK bila berdiskusi dengan anggota Komisi VI DPR Hendrawan Supratikno. Polisi PDI Perjuangan itu kerap  melontarkan persoalan serius tapi dengan guyonan yang satir. Hendrawan menuturkan, mobilnya bermerek Toyota Fortuner dan baru lunas kreditnya.

"Kalau kita membuat sensus mobil di jalan raya maka raja yang menguasai di jalanan ada tiga merek yaitu Toyota Kijang, Daihatsu Zebra dan Mitsubishi Panther. Apa yang menjadi milik Indonesia? Indonesia hanya memiliki nama belakangnya saja yaitu Kijang, Zebra dan Kuda.

"Jadi binatangnya milik orang Indonesia, merek utamanya milik orang jepang. Terus saya berpikir dalam setengah merenung dan bergurau apa memang kita ini hanya berhak yang menguasai tentang yang sejenis binatang-binatang ini," kata Hendrawan,  lirih.

Secara ekstreme, Hendrawan pun mengamini apa yang dikatakan mantan petinggi Bank Indonesia Prof. DR. Anwar Nasution yang mengatakan kandungan lokal dalam industri otomatif nasional tidak sampai 10 persen. Mungkin hanya jok, knalpot atau aksesoris lainnya. "Tapi menurut Anwar Nasution yang benar-benar kandungan lokalnya asli Indonesia hanya angin di dalam ban," kelakar Hendrawan.

Mengutip ahli manajemen Peter F Draker, kata Hendrawan, industri otomotif adalah 'Mbahnya Industri'. Negara yang bisa menguasai industri otomotif berarti dalam melakukan koordinasi erhadap 10.000 komponen. Ini memerlukan disiplin dan budaya industrial  yang hebat.

"Tidak ada negara kaya yang bukan negara industri. Itu sebabnya kuasai  industri. Itu berarti sudahmasuk jalur negara kaya," kata Hendrawan.

Menurut Hendrawan, Indonesia sempat memiliki Inpres No 2/1996 tentang Mobil Nasional dengan mengeluarkan mereka Timor. Namun, proyek itu tidak dijalankan secara konsisten. Mobil  nasional pun hanya jadi mimpi nasional.

"Tiba-tiba  awal Januari 2012, Jokowi dan kawan-kawan memperkenalkan dengan demonstratif mobil Esemka. Kalau tidak demonstratif tidak diperhatikan media. Ini adalah bagian dari kampanye publik agar mimpi kolektif kita sebagai  bangsa untuk menguasai industri otomotif bangkit kembali," terangnya.

Menyikapi itu, kata Hendrawan, Komisi VI kemudian mengggelar rapat secara maraton dengan para pelaku usaha yang  menggagas cikal-bakal industri mobil nasional.  "Kita panggil semua yang memproduksi Anoa, Gea, Komodo. Kita rapat dan panggil semua.  Eh, tiba-tiba pemerintah cq Kementerian Perindustrian  muncul dengan ide LCGC. Rupanya pemerintah dan Kemenperin ingin gampangnya saja," katanya.

"Pemerintah itu tidak berakit-rakit dahulu dan berenang-renang ketepian. Dengan munculnya mobil murah malah mengukuhkan dominasi petahana dalam industri otomotif Indonesia. Mengukuhkan hegmoni incumbent struktur industri nasiona," tambahnya. "Jadi sekarang bagi mereka yang menggagas Anoa, Gea dan sebagainya jadi disinsentif. Padahal mereka ini  perlu dukungan dari pemerintah."

Anggota DPR dari PDI Perjuangan ini namanya mulai dikenal publik saat terlibat aktif dalam Panitia Khusus Angket Century akhir 2009 lalu. Performa Hendrawan dalam penguasaan isu - isu teknis perbankan menjadi modalnya dalam menganalisa kasus ini.

Pria kelahiran Cilacap, 21 April 1960 ini memang sebelum terjun dalam dunia politik adalah seorang akademisi sejati. Ia menjadi guru besar di almamaternya di fakultas ekonomi Universitas Satya Wacana dan juga menjadi dosen di fakultas ekonomi Universitas Indonesia. Suami dari Juliana Kalelena ini pun meraih gelar master dan doktor dari kampus ternama di Eropa.

Dikutip dari Merdeka.com, pria berdarah keturunan dan kelahiran Cilacap, Jawa Tengah ini justru banyak memahami budaya Jawa, sekaligus menjadi salah seorang anggota aktif dari Tim Budaya Jawa Tengah - Yogyakarta yang berdiri sejak 2012 lalu. Juga terkenal karena sikapnya yang sangat sopan dan ramah, Supratikno mengaku bahwa sejak kecil ia telah hidup di lingkungan heterogen dan tidak mendiskriminasi orang dari etnis tertentu.

Bahkan ketika masih menjalankan studi di luar negeri, tempat tinggalnya sering beralih fungsi menjadi tempat ibadah para rekannya yang beragama Islam. Bisa jadi heterogenitas ini membuat Hendrawan memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan yang sering kali justru menjadi masalah di masyarakat Indonesia. Bahkan di awal dan di akhir diskusi, Hendrawan juga selalu berucap dengan salam gaya NU.

"Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq, wassalam mualaikum warahmatullahi wabarakatuh," tutupnya seusai diskusi di Kompleks Parlemen belum lama ini.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.