Ads Top

Setya Novanto, Awalnya Dagang Beras dan Jadi Sopir

ORANG tahunya, Setya Novanto yang kini menjadi Ketua DPR RI itu saudagar tajir. Namun banyak orang yang nyinyir dan mencibir tentang kekayaannya tersebut. Entahlah, apakah mereka itu ngiri atau sekadar kritis.

Sampai-sampai Setnov--demikian inisial politisi senior Golkar ini kerap disapa--ketika ke DPR pakai Jaguar bernopol RI 6, sampai wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, heboh dan ramai-ramai memberitakannya.

Setelah Setnov memberikan klarifikasi, mobil itu milik anaknya yang dibeli lima tahun lalu dan ia memakainya karena Lexus inventaris DPR masuk bengkel, wartawan pun tak berkutik. Masyarakat pun tak butuh dengan berita itu. Ada wartawan yang bilang itu tidak berempati dengan penderitaan rakyat.

"Lalu harusnya pakai apa?" pancing saya kepada seorang teman yang gayanya mirip aktivis LSM daripada seorang wartawan.

"Pakai taksi saja. Atau pakai kijang," jawabnya enteng.

"Itu artinya Anda tidak berempati dengan Setnov."

"Maksudnya?"

"Sama saja Anda yang biasa naik sepeda motor di suruh naik sepeda ke DPR. Mau?"

Dia terdiam. "Kalau Setnov pakai taksi nanti malah dituding pencitraan," Saya melanjutkan.

Untuk meyakinkan, saya pun tunjukkan sebuah artikel yang ditulis jurnalis yang sehari-hari di Pressroom DPR yang pernah menulis kisah hidup Setnov yang masa mudanya berdarah-darah. Banyak yang tidak terungkap bahwa Setnov sempat menjadi sopir dan pedagang beras.

Masa mudanya dilewati dengan suka dan duka, sebelum seberjaya sekarang. Setnov yang lahir di Bandung, Jawa Barat dan sekolah di SMA 9 (sekarang SMA 70 Bulungan Jakarta) kemudian hijrah ke Surabaya dan melanjutkan kuliah di jurusan akuntansi Universitas Widya Mandala.

Setnov membiayai sendiri kuliahnya dengan bekerja serabutan seperti berjualan beras di Pasar Keputren, sales di dealer mobil dan menjual ketampanannya dengan menjadi model peragaan busana di catwalk.

Nah, salah satunya yang tidak banyak terungkap adalah Setnov pernah menjadi sopir pribadi, tukang cuci mobil Mas Isman (almarhum) pendiri KOSGORO dan pendiri Golkar, yang kemudian mengubah hidupnya setelah diasuh Sang Jenderal. Setnov adalah teman Hayono Isman, putra Mas Isman, yang kini menjadi politisi Demokrat. Keduanya berteman semasa SMA dan Setnov menumpang di rumah Hayono Isman.

AP Batubara--pengusaha yang dulu berkantor di Gedung Indocement Jalan Sudirman, Jakarta--bersama Liem Soei Liong, Ibrahim Risjad dan Sudwikatmono--termasuk yang mengetahui kisah Setnov. "Setnov itu dulu sopir Mas Isman. Dia itu ulet. Setelah mengantarkan Mas Isman ke kantor di Wisma Kosgoro di Jalan Thamrin, dia itu sering main-main ke Wisma Indocement tepatnya di lantai parkir sekaligus tempat transit tiga konglomerat itu," kata Ap batubara seperti dituturkan kepada Erwin Kurai.

Suatu saat Setnov sempat di tegur Sudwikatmono. "Tegurannya, maksudnya baik. Sehingga sempat ditanyakan siapa  dia sebenarnya dan ngapain sering berada di lantai parkir," kata AP Batubara.

Entah apa jawaban Setnov ketika itu. Tahu-tahu Sudwikatmono memberikan suatu proyek di Pulau Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Setelah itu perusahaan milik Setnov terus berkembang dan tambah besar.

Setelah sukses berbisnis di Pulau Batam, Setnov dengan bekal jaringan jenderal dan konglomerat Orde Baru kemudian mengajukan izin lokasi tanah kepada Otorita Batam untuk pembangunan hotel berbintang pertama di sana lengkap dengan lapangan golf di Nagoya berhadapan dengan negara tetangga Singapura.

Ikut mendukung rencananya saat  itu adalah Pangkowilhan I Mayor Jenderal Soesilo Sudarman (almarhum) atau Panglima Teritorial Kodam Bukit Barisan, sampai izin lokasi tanah yang diajukan diterbitkan oleh Otorita Batam dengan mulus. Soesilo Sudarman saat itu adalah orang kepercayaan Presiden Suharto. Dan Setnov sangat paham untuk berlindung atau mencari tauke yang menjadi jurus bisnis ampuh di  zaman itu.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.