Ads Top

Sutan Bhatoegana, Sang MC Dangdut Keliling (3)

YOGYAKARTA telah memaksa Sutan berjuang untuk hidup dan kuliah di Akademi Teknik Nasional (ATN) Yogyakarta Untuk dua hal itu berbagai cara dilakoni Sutan, mulai dari yang halal sampai yang haram sekalipun. Mulai dari pembawa acara (MC) dangdut di acara hiburan rakyat sekatenan dengan honor Rp 3.000 hinga mengoplos minuman keras di sebuah diskotek abal-abal. Sejatinya Sutan adalah petugas keamanan di kelompok dangdut itu dengan modal dasar sebagai Kepala Seksi II Yon Mahakarta ATN Yogyakarta alias Menwa.

Kisah menjadi MC lebih banyak karena ketidaksengajaan. Suatu hari MC utama kelompok dangdut absen menjelang acara dimulai. Bos kelompok dangdut kelimpungan mencari penggantinya. Di antara rombongan kelompok dangdut ada yang nyeletuk, "Sutan, Sutan aja Pak Bos. Udah dia saja pasti bisa. Dia kan tukang ngoceh."

Tentu, didapuk seperti itu Sutan tak bisa menolak. Menolak jadi MC, bisa mematikan kelompok dangdut yang selama ini menjadi sumber mata pencahariannya. Dengan bermodalkan sebotol Kuntul, minuman keras yang dicampur spirtus dan bir, Sutan tampil ke depan dan benar saja langsung ngoceh.

"Bapak-bapak, ibu-ibu dan hadirin sekalian malam ini kami akan menghibur saudara-saudara sekalian dan kami telah mengundang warga negara Jerman yang telah menjadi warga negara Indonesia dan telah mempelajari lagu dangdut, inilah dia Jimmy yang akan membawakan lagu Haram."

Tepuk tangan membahana. Penonton pun meneriakkan nama Jimmy mirip demo buruh zaman sekarang. "Jimmy...Jimmy...Jimmy!

Sutan tidak tahu apa yang ada dalam pikiran penonton saat itu setelah Jimmy yang keluar dan menyanyikan lagu Rhoma Irama itu adalah bukan orang Jerman melainkan warga negara Indonesia. Hanya kulit dan rambut saja yang memang albino.

Yang jelas penonton ikut bergoyang dan menyanyikan syair lagu Haram. Sementara Jimmy bergoyang bukan karena tuntutan koreogri  melainkan improvisasi dan gerakannya lebih banyak horizontal dan vertikal karena sebelumnya di kolong panggung kebanyakan menenggak dua botol Kuntul.

Ha-ha-ha...

Kenapa, e, kenapa minuman itu haram

Karena, e, karena merusakkan pikiran

Kenapa, e, kenapa berzina juga haram

Karena, e, karena itu cara binatang

Kenapa semua yang enak-enak itu diharamkan

Kenapa semua yang asyik-asyik itu yang dilarang

Ah-ah-ah-ah-ah-ah-a-a-ah

Itulah perangkap syetan

Umpannya ialah bermacam-macam kesenangan

Kenapa, e, kenapa berjudi itu haram

Karena, e, karena merusak keuangan

Kenapa, e, kenapa mencuri juga haram

Karena, e, karena hai merugikan orang

Kenapa semua yang enak-enak itu diharamkan

Kenapa semua yang asyik-asyik itu yang dilarang

Ah-ah-ah-ah-ah-ah-a-a-ah

Itulah perangkap syetan

Umpannya ialah bermacam-macam kesenangan

Ha-ha-ha...

Biasanya sudah biasa setiap yang akan menyesatkan

Sepintas lalu menyenangkan

Biasanya sudah biasa

Setiap yang akan merugikan

Sepintas lalu menguntungkan

Begitu caranya syetan menggoda kita

Dihiasinya dosa dengan bunga dunia

Sutan kembali ngoceh dan kembali membuat penasaran penonton yang memenuhi alun-alun. "Berikutnya kami bawakan penyanyi dangdut yang insya Allah bulan depan akan masuk dapur rekaman, inilah Rita dari Ambarawa...."

Joget Rita semakin panas menyanyikan Mandi Madu dari Elvy Skaesih. Teriakan penonton makin histeris ketika Rita yang mabuk dalam pengaruh minuman Kuntul pelan-pelan membuka empat kancing bajunya.

Basah, basah, basah, seluruh tubuhah

ah, ah, menyentuh kalbumanis

manis, manis, semanis madu

ah, ah, ah, menyentuh syahdu

Basah diri ini, basah hati ini

kasih dan sayangmu

menyirami hidupku

bagaikan mandi madu

ah, ah, ah, mandi madu

Kau taburkan sejuta pesona

dirimu tak dapat kulupakan

kau sirami bersemilah cinta

bungapun kini mekarlah sudah

Manis manis cintamu

manis manis kasihmu

diri ini bagai mandi madu

Sekatenan tidak hanya di Yogyakarta. Sutan dan kelompoknya juga menggelar hiburan rakyat tersebut sampai ke Pacitan, Ponorogo dan Bangkalan, Madura. Safari Dangdut ke luar daerah itu menggunakan truk dan berlangsung enam bulan. Petaka pula terjadi di Madura.

Hari pertama berlangsung sukses dan menyedot banyak penonton. Begitu juga pada hari kedua. Hari ketiga benar-benar apes. Hiburan rakyat dibubarkan paksa oleh polisi setempat.  Kelompok dangdut digerebek.  Penyanyi dipaksa turun dari panggung.

Gara-garanya  penyanyi dangdut perempuan menyanyikan lagu Elvy  Sukaesih terlalu mendesah dan diangggap mengundang berahi. Alasan lainnya, penyanyi dangdut terlalu banyak mempreteli kancingnya sehingga buah dadanya menyembul keluar.

Sutan dan rombongan terpaksa meringkuk di kantor polisi selama tiga hari. Sutan mencari akal agar segera dapat keluar dari kantor polisi. Rupanya antara ide Sutan dan komandan polisi nyambung. Seorang penyanyi dangdut dan sekaligus bahenol ‘dikorbankan’ untuk melayani nafsu bejat sang komandan semalaman.

Sutan merasa itu adalah pilihan terburuk dari beberapa yang terburuk. Lapar dan tanpa harapan  saat itu membuat Sutan harus berpikir keras agar kelompok dangdutnya segera keluar dari kantor polisi.

Setelah bebas dan mendapat izin dengan berbagai persyaratan, malamnya kelompok dangdut kembali manggung di tempat yang sama. Kali ini tanpa desahan, tanpa minuman keras, tanpa goyangan erotis dan tanpa membuka kancing baju. Hasilnya, tak ada satu pun penonton.

Inilah pertunjukkan yang paling sial dan Sutan bersama kelompoknya pulang dalam truk terbuka dengan penuh kecewa, lapar dan kelelahan.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.