Ads Top

Susaningtyas, Perempuan Pengamat Intelijen

PEREMPUAN pengamat politik jumlahnya banyak. Perempuan pengamat hukum juga bejibun. Tapi, perempuan pengamatan intelijen, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, boleh disebut satu dari sedikit orang.

"Terserah, apa pun sebutan untuk gue. Mau perempuan satu-satunya pengamat intelijen atau apa, terserah mau apa gue disebut," kata Nuning suatu waktu.

Karena konsentrasi pada bidang intelijen, Nuning, sapaan akrabnya, kerap menjadi narasumber media bila isu terorisme sedang hangat. Salah satu pemikirannya adalah tentang tahanan terorisme. Ia mengusulkan mereka dipenjara di tahanan militer. Selain terjamin keamanannya, narapidana di situ bakal dibina oleh Dinas Pembinaan Mental TNI yang memiliki ahli doktrin yang mampu membuka kotak pandora dalam pikiran para teroris. Sehingga paradigma pemikiran teroris bisa diubah.

Penangangan tahanan terorisme oleh TNI juga berpayung hukum pada UU Terorisme. Disebutkan, TNI juga bertanggung jawab dalam penanganan masalah terorisme dan pengendalinya adalah BNPT. “Pengawasan lebih terjamin dan dari segi disiplin pengawasan lebih kredibel. Dari aspek pembinaan mental mereka kan selama ini militan karena didoktrin. Cocok dengan militer yang sama militan karena doktrin,” katanya.

Berbincang dengan Nuning seolah tiada jarak. Bicaranya mengalir deras. Bahasanya lugas. Gayanya egaliter. Pun jika ia ingin meluruskan informasi. "Apa yang pernah kamu tulis itu salah, lho. Masa saya digambarkan sibuk atau kasak-kusuk soal pemilihan KPI. Lha, kasak-kusuk bagaimana? Saat pemilihan, mana calon petahana KPI pun gue nggak tahu," katanya memprotes sebuah pemberitaan media saat Nuning menjadi anggota Komisi I DPR periode 2009-2014.

Belum sempat protes itu dijawab dengan lengkap, ia langsung beralih tema lain. "O ya, kamu nanti saya undang ya. Aku mau meluncurkan buku cetakan yang kedua. Pasti gue undang," kata politisi Hanura tersebut. "Buku gue laris manis, lho," tambahnya.

Buku yang dimaksud Nuning adalah disertasinya pada program doktoral Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung yang berjudul "Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan". Sejumlah elite TNI dan Polri memuji buku karya Nuning. Sebut saja misal, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Marsetio, Kepala Badan Intelijen Negara Letjen TNI Marciano Norman, dan Wakil Menteri Pertahanan Letjen (Purn) TNI Sjafrie Sjamsoeddin.

"Buku ini sangat menarik dan penting karena membedah perspektif tentang sistem dan mekanisme komunikasi intelijen, utamanya sebagai hulu dari proses pengambilan keputusan sehingga memberi manfaat, memperkaya, dan sekaligus mencerahkan pemahaman tentang perilaku intelijen yang sering dikonotasikan bersisi gelap dan selalu penuh konspirasi," puji Marciano Norman.

Tanpa bermaksud sombong, Nuning berpromosi, "Buku gue laris manis, lho.” Di sejumlah toko buku di Bandung dan Yogyakarta, buku itu ludes dibeli. Maklum, inilah buku paling lengkap bicara soal intelijen, terutama dari aspek komunikasi.

"Mulai dari komunikasi formal dan informal dalam intelijen ada dalam buku gue. Wartawan pun bila ingin mendalami ilmunya terkait intelijen dalam kegiatan di Polri atau TNI tinggal baca buku gue. Ini untuk semua kalangan," katanya.

Nuning sekolah di SD Yasporbi II Jakarta, SMP Asisi Jakarta, SMAN 70 Bulungan Jakarta, lalu S-1 Jurusan Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia. Ia lantas melanjutkan pendidikan S-2 di program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, kemudian S3 Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.

Sempat menjadi anggota Komisi III DPR yang membidangi Hukum, HAM, Keamanan. Pada 2010 Fraksi Partai Hanura menugaskannya untuk konsentrasi di Komisi I yang mengurusi bidang Pertahanan, Luar Negeri dan Informasi. 

Nuning terjun ke politik setelah sudah mapan di dunia bisnis. Ia tercatat antara lain sebagai Komisaris PT Netwave Maju Abadi (2008 - sekarang), Senior Adviser PT Cipta Busana  Jaya (1999 - sekarang), Direktur Komunikasi/Advisor Texmaco Grup (1997-1999), PR Manager Texmaco Grup (1996-1997), serta Marketing & Public Relation beberapa perusahaan dan perbankan di tahun 1989 hingga 1996.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.