Ads Top

Salim Mengga: Keris, Museum dan Bahasa Mandar

DALAM sebuah perbincangan santai di Kompleks Parlemen, Jakarta, suatu siang, Salim Mengga sangat antusias ketika berbicara tentang keris. Koleksinya yang sudah mencapai lebih dari 60 keris, membuktikan pensiunan jenderal ini sangat serius berburu warisan budaya Nusantara tersebut.

“Saya tidak terima keris untuk koleksi yang berasal dari hadiah. Tidak akan bagus. Pamornya mungkin saja indah tapi nilai sejarahnya tidak ada,”  kata politisi Partai Demokrat ini bersemangat.

Lantaran itu Salim Mengga sangat bersemangat ketika Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengajak bergabung dalam pameran keris memeriahkan Hari Kebangkitan Nasional bertajuk “Pameran Keris Nusantara” pada 20-24 Mei 2015. Karena terbatasnya ruang pamer, anggota DPR dari daerah pemilihan Sulawesi Barat ini hanya dapat memperlihatkan lima keris khas Bugis.

“Ketika itu tempatnya terbatas. Saya sudah menawarkan untuk memamerkan semua koleksi saya. Tapi tempatnya nggak ada lagi. Ya, cukup lima saja. Saya juga tadinya ingin memamerkan pedang karena menurut saya pedang itu istimewa?” kata peraih 51.168 suara dalam Pemilu 2014 ini.

Seberapa istimewakah pedang koleksinya? “Pedang itu dari Jawa. Pedang dari zaman Kerajaan Singosari namanya Lar Bango. Panjangnya 76 centimeter. Cukup panjang. Yang saya ketahui pedang itu berasal dari zaman Singosari dan kelihatannya untuk perang. Secara keseluruhan pedang itu masih utuh namun di beberapa bagian ada yang sudah kemakan usia,” tuturnya.

Salim Mengga mengisahkan, bibit kecintaannya kepada keris sejatinya sudah lama atau tepatnya saat masih prajurit letnan dua. Karena itu koleksinya sangat beragam mulai dari keris yang berasal dari Jawa, Madura, Jambi hingga Sulawesi.

“Sampai sekarang saya mencari sendiri. Informasinya bisa dari mulut ke mulut. Memang ada jaringan dan biasanya kita berkumpul. Tapi saya tidak ikut dalam komunitas,” ujarnya.

Dalam mengoleksi keris, kata  Salim Mengga, tidak ada istilah mahal dan murah. Harga keris itu relatif seperti halnya batu permata atau seperti halnya fenomena batu akik. “Kalau kita senang harga ratusan juta pun bisa dibeli. Nilai sejarahnya tinggi tentu harganya juga mahal,” ujarnya.

Dari  pengalaman mengoleksi keris, Salim Mengga memiliki kesimpulan mpu zaman dulu dengan sekarang bila  dibandingkan tetap tidak ada tandingannya. Inilah yang membuat keris peninggalan zaman dulu tetap diburu kolektor dalam dan luar negeri.

“Dalam beberapa hal, sehebat apapun mpu sekarang ada yang tidak bisa menyamai mpu keris zaman dulu. Misalnya berat keris tua itu rata-rata ringan. Kelihatannya ada rahasia di logam. Orang dulu itu bikin keris menggunakan logam-logam pilihan,” kata Salim Mengga.
Salim Mengga tidak percaya keris warisan zaman dulu hebat lantaran mistik. Anggota Komisi I DPR ini tak percaya dengan mistik dalam keris. Salim Mengga mengoleksi keris lebih kepada pendekatan budaya.

“Ya, memang mpu zaman dulu untuk membuat keris pun melakukan tirakatan dulu untuk kesempurnaan keris yang dibuatnya. Juga untuk memberikan wibawa atas kerisnya,” ujarnya.

Adakah waktu-waktu khusus untuk koleksi keris? Rupanya bagi Salim Mengga, tiap hari bisa saja intens dengan keris koleksinya. Tak ada ritual khusus apalagi pantangan tertentu. “Saya tiap hari melihat keris kalau lagi di rumah. Tiap hari saya periksa. Keris yang sudah lama tidak dibuka saya buka dan periksa untuk melihat kondisinya jangan sampai ada karat. Itu hiburan saya kalau di rumah,” ujarnya, enteng.

***
Suatu hari nanti, Salim Mengga berharap cita-citanya untuk membangun sebuah museum di Sulselbar segera terwujud. Museum itu dapat menyimpan semua koleksinya termasuk warisan budaya lainnya di Sulselbar.

“Benda seni bersejarah kita seperti keris banyak yang hilang. Hilang karena kita tidak peduli. Benda seni kita ini lebih dihargai bangsa asing daripada bangsa sendiri,” katanya, gusar.

Salim Mengga menyarankan kepada instansi dan lembaga seperti DPR, rutin menggelar pameran keris dan warisan budaya bangsa lainnya. Pameran diharapkan dapat menginspirasi dan memotivasi masyarakat  untuk mengoleksi keris.

“Saya berharap ini memotivasi masyarakat Indonesia untuk mencari dan menyimpan. Keris-keris bagus milik kita ini ada yang sudah tersimpan di Singapura, Brunei, Jerman, Belanda, Amerika dan di beberapa pusat senia dunia. Masyarakat dunia menyenangi keris kita. Bangsa kita saja yang abai. Saya berharap orang yang tidak menyukai keris dapat mencintai dan mengoleksinya. Minimal setiap orang punya dua keris,” kata Salim Mengga.

Salim Mengga mengaku tidak lelah untuk terus berburu keris. Pencarian itu menjadi bagian dari tantangan sekaligus penghiburannya di tengah-tengah kesibukannya menjadi wakil rakyat.

“Saya akan terus mencari. Ada beberapa pamor yang belum saya temukan. Di antaranya pamor seperti relief. Relief ini muncul dalam bentuk gambar. Sebelumnya sudah saya lihat hanya belum kesampaian bertemu dengan pemiliknya. Termasuk belum sepakat soal harganya. Rupanya dia tahu harga juga. Hahahaha….”

***
Salim Mengga, juga termasuk yang sangat peduli dengan bahasa daerah. Bahasa Mandar, bahasa lokal di Sulawesi Barat, dinilai sudah mengkhawatirkan. Seluruh bupati di Sulselbar diimbau untuk memasukkan pelajaran bahasa Mandar ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah.

“Sangat memprihatinkan. Sudah lama saya mengimbau bupati-bupati untuk memasukkan bahasa daerah ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah. Penguasaan anak-anak muda akan bahasa lokal sangat rendah sekali. Ini jelas memprihatinkan,” kata Salim Mengga.

Salim Mengga menjelaskan, UNESCO sudah melaporkan bahasa-bahasa daerah banyak yang punah secara masif. “Itu benar. Saya rasakan di daerah sendiri di Sulbar. Mereka yang mengunakan bahasa mandar kebanyakan orangtua. Anak-anak muda mana?”

Menurut Salim Mengga, kepunahan bahasa daerah merupakan fenomena umum. Di setiap daerah penyebabnya sama. “Tiap hari mereka nonton televisi memakai bahasa Indonesia. Di sekolah bahasa Indonesia. Orangtuanya juga di rumah berkomunikasi memakai bahasa Indonesia. Ditambah lagi dengan serbuan bahasa Inggris dan bahasa lainnya,” ujarnya.

Sayangnya semangat Salim Mengga untuk melestarikan bahasa Mandar tidak mendapat sambutan semestinya dari para kepala daerah. Lucunya, alasan mereka sangat naif. “Saya sudah desak kepala-kepala daerah untuk memasukkan bahasa mandar ke dalam muatan lokal. Tapi mereka menjawabnya, susah. Alasannya di Sulbar ada bahasa Bugis, ada bahasa Jawa dan macam alasan lainnya. Saya langsung debat. Itu nggak masalah. Bukan halangan. Anak saya saja sekolah di Jawa Barat dipaksa belajar bahasa Sunda. Awalnya nilainya 3 atau 4. Nggak apa-apa itu,” terangnya.

“Kemudian saya pindah ke Jawa Tengah. Anak saya dipaksa lagi belajar bahasa Jawa karena muatan lokalnya bahasa Jawa. Nggak ada masalah. Memang harus dipaksa,” sambungnya.

Menurut Salim Mengga, bila tidak menguasai bahasa daerah dan tidak bangga dengan identitas primordial sendiri, siapa lagi yang peduli. Identitas kebangsaan itu salah satunya adalah keberagaman dalam bahasa. “Kalau kita hanya bisa bahasa Indonesia, keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia tidak ada lagi,” lagi-lagi Salim Mengga sangat gusar.




MAYJEN TNI (PURN) SALIM MENGGA

No. Anggota : A-454
Tempat Lahir / Tgl Lahir : Pambusuang, 24 Agustus 1951
Agama : Islam


Pendidikan

•S1, Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI), Magelang (1974)
•S2, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD), Bandung (1990)

Riwayat Pekerjaan

•PANGDAM XVI / PTM tahun 2006
•WADAN KODIKLAT TNI-AD tahun 2003 - 2006
•KASDAM IV DIPONEGORO tahun 2001 - 2003
•DANPUSSENKAV tahun 1997 - 2001
•DANREM 141/DAM VII WRB tahun 1995 - 1997
•ASSISTEN SOSIAL POLITIK DAM IV tahun 1994 - 1995
•WAASSOSPOL DAM IV DIPONEGORO tahun 1993 - 1994
•DANDIM 0716/REM 073 DAM IV/DIP tahun 1991 - 1993
•DANYON KAV 2/DAM IV DIP tahun 1990 - 1991
•GUMIL GOL V PUSSENKAV tahun 1989 - 1990
•KASDIM KDM 071/ REM 071 DAMNI tahun 1986 - 1989
•WADAN BATALYON KAVALERI tahun 1985 - 1986
•KASI TRAKTOR PUSSENKAV tahun 1984 - 1985
•GUMILVI PUSDIK KAVALERI tahun 1982 - 1984
•DANKIWA BATALYON KAVALERI tahun 1981 - 1982
•KASI 4 LOG BATALYON KAVALERI tahun 1981 - 1982
•DANKI 101 BATALYON KAVALERI tahun 1978 - 1981
•DANTON DETASEMEN KAVALERI tahun 1975 - 1978

Organisasi

•Ketua Umum KKMSB

Kunjungan Luar Negeri

•Fungsi Pengawasan Anggota DPR-RI, Republik Ceko (2012)
•Komisi I, Rusia (2011)
•Delegasi Komisi I DPR RI, China (2010)
•Komisi I , Mesir (2010)
•Anggota Badan Kehormatan DPR-RI, Yunani (2010)
•KTT ke-16 Asean bersama dengan Presiden RI, Vietnam (2010)
•Komisi I , Kuching- Malaysia (2010)
•BKSAP, Maroko (2010)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.