Ads Top

Miryam Haryani, Fashion Politics dan Srikandi Hanura

UNTUK modis dan mendapat predikat sebagai anggota Dewan sadar fesyen alias fashion politics tidak harus berlatar model seperti halnya Okky Asokawati dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP)dan Arzetti Bilbina dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Siapapun bisa mendapat julukan itu.

Jadi anggota DPR selain  pandai berorasi dan mengutarakan pendapat lebih bagus juga dapat menjaga penampilan. Ini sangat disadari Miryam S. Haryani, anggota Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Anggota DPR dari daerah pemilihan Jabar VIII (Indramayu, Kota dan Kabupaten Cirebon) ini kerap mengenakan syal yang melilit lehernya.

"Maaf, beginilah saya. Makin sibuk.Hari ini banyak tamu dan rapat," kata Miryam, suatu siang.

Mondar-mandir di seputar Kompleks Parlemen Senayan tak membuatnya kuyu atau layu menurut istilah anak muda kiwari. Perempuan ramah ini nampak energetik dan penuh semangat kendati dalam satu hari harus ikut berbagai rapat mulai dari rapat komisi, fraksi, panja atau pansus belum lagi konstituen yang datang. “Maklum anggota Fraksi Hanura kan cuma belasan orang,” ujarnya.

Mantan Koordinator Program Magister Ilmu Hukum Universitas Jayabaya Jakarta ini sangat peduli dengan isu-isu perempuan dan jender. Pada Pemilu 2009 dan 2014 mayoritas pemilihnya adalah perempuan.

Bahkan pada Pemilu 2009, Miryam meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia  (Muri) untuk kategori kampanye terbesar tingkat nasional dengan serba perempuan. Semua orator perempuan, 35 ribu massa semuanya perempuan, hingga polisi penjaga keamanannyapun perempuan. Ketika itu Miryam melenggang ke Senayan dengan mengantongi 28.749 suara.

Miryam sangat menyadari, dapilnya sangat sarat dengan permasalahan perempuan. Bahkan di kalangan masyakat dan peneliti sudah menjadi stempel atau stereotype tertentu. Apapun yang negatif tentang perempuan selalu dialamatkan ke dapilnya, khususnya Indramayu.

"Dapil saya itu daerah agraris, sementara pertaniannya sistem tadah hujan.Saat menunggu musim hujan itu disela dengan musim paceklik.Kalau musim paceklik, perempuan di dapil saya menjadi TKW atau jadi perempuan…," Miryam tak kuasa melanjutkan perkataannya.

Menghela napas sebentar, kemudian berujar, "Inilah pekerjaan rumahsaya yang sampaikinibelumterselesaikan. Entah sampai kapan. Tapi bagi saya yang penting terus bekerja dan minimal bermanfaat bagi konstituen.”

***
Sebagai Ketua Umum DPP Srikandi Hanura, Miryam mengajak kaum perempuan Indonesia untuk menjadi perempuan plus. Artinya,perempuan plus itu bisa menjadi politisi, bupati, walikota atau dokter atau profesi lainnya."Bukan zamannya lagi perempuan Indonesia hanya berkutat di sumur, dapur dan kasur," ujar pemilik usaha konstruksi dan kafe ini.

Lewat Srikandi ini, sambung Miryam, program penyadaran perempuan untuk terlibat dalam politik membuahkan hasil. Bahkan Duta Besar Australia sebelumnya untuk Indonesia, Greg Moriarty, menyatakan salut kepada Hanura sebagai parpol peduli jender.

Kekaguman Moriarty itu terkuak dalam diskusi terbatas bertema ‘Perempuan dalam Politik Indonesia’ yang digelar Kedubes Australia di Jakarta.

"Pak Dubes menyatakan kekaguman akan pesatnya perkembangan kepedulian akan perempuan dalam politik Indonesia," kata Miryam sumringah.

"Beliau terkesan ketika saya buka fakta bahwa partai kami tak hanya telah melampaui batas kuota 30 persen caleg perempuan, tetapi juga posisi caleg perempuan itu berada di urutan-urutan atas," kata Miryam.

Bahkan, tambah Miryam, saat ini komposisi perempuan di kepengurusan DPP Partai Hanura hampir mencapai 40 persen.“Mendengar itu, beliau bilang Hanura benar-benar parpol peduli perempuan,” kata dia.

Suatu parpol dapat dikatakan peduli perempuan, indikatornya tak hanya soal kuota. Jika parpol menaruh caleg perempuan di urutan buncit, maka parpol itu cuma mengejar aturan atau syarat paling minimal. Memang, sistem Pemilu yang dianut masih menggunakan suara terbanyak sehingga nomor urut mestinya bukan masalah. Tapi, masyarakat telanjur berpikiran bahwa nomor urut menunjukkan prioritas dan kemampuan calon.

Kepengurusan Srikandi, kata Miryam, saat ini sudah merambah 33 provinsi dan di 382 kabupaten/kota. "Kami bahu membahu untuk meningkatkan derajat perempuan. Kami juga memberikan pendidikan politik kepada kaum perempuan bahwa untuk mengubah nasib perempuan harus masuk partai politik dan jadi anggota legislatif. Di DPR ini lahkita dapat ikut membuat kebijakan. Kalau tidak, kita hanya jadi penonton bukan jadi pelaku," katanya, bersemangat.

Miryam termasuk yang saat itu memuji Presiden Jokowi ketika menunjuk sembilan Panitia Seleksi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang seluruh perempuan hebat. Menurut dia, sembilan nama tersebut merupakan orang-orang yang kredibel. “Pansel KPK adalah orang-orang pilihan yang kredibel,” komentarnya singkat.

Pentolan Pansel KPK itu adalah Destry Damayanti (ekonom, ahli moneter), Enny Nurbaningsih (pakar hukum tata negara), Harkristuti Haskrisnowo, Betti Alisjabana (ahli teknologi informasi dan manajemen) Yenti Garnasih (pakar pidana ekonomi), Supra Wimbarti (ahli psikologi), Natalia Subagio (pakar pemerintahan dan birokrasi), Diani Sadiawati (ahli hukum) dan Meuthia Ganie Sadiawati (sosiolog).

“Coba lihat. Mereka itu hebat-hebat kan. Salut, salut, salut...” ujarnya bersemangat.

Kesadaran Miryam berpartai dimulai sejak menjabat Wakil Sekjen Bidang Pemenangan Pemilu DPP Partai Bintang Reformasi yang saat itu dipimpin dai kondang Zainuddin MZ. Gagal jadi caleg, Miryam sempat menjauh dari politik.Hingga akhirnya dia kepincut sosok Wiranto di Partai Hanura.

"Saya awalnya tidak langsung tertarik masuk Hanura. Setelah saya jalani beberapa waktu, saya melihat Hanura adalah partai yang reformis, nasionalis, namun tetap agamis. Di situlah saya akhirnya memberanikan diri untuk kembali mencalonkan diri menjadi anggota DPR. Alhamdulillah, pada Pemilu 2009 saya menjadi satu-satunya caleg dari 17 caleg yang memperoleh suara terbanyak dari Partai Hanura," ujarnya.





MIRYAM S. HARYANI, S.E., M.Si.


No. Anggota: A-553
Tempat Lahir / Tgl Lahir : Indramayu, 01 Desember 1973
Agama: Islam

Riwayat Pendidikan
•Ilmu Pemerintahan dan Politik, STIAMI tahun 2005

Pekerjaan
•Anggota Fraksi Partai Hanura di DPR RI tahun 2014 - 2019
•Komisaris PT. Insani Primalayan tahun 2009 - sekarang
•Anggota Fraksi Partai Hanura di DPR RI tahun 2009 - 2014
•Komisaris PT. Mas Arya Tunggal Abadi tahun 2008 - sekarang
•Ketua Yayasan Srikandi Indonesia tahun 2006 - sekarang
•Direktur Internasional Institute of Communication tahun 2006 - sekarang
•Owner Bright International School tahun 2006 - 2015
•Owner International Institute of Communication (IIC) tahun: 2006 - 2015
•Pendiri Pusat Pengkajian Masalah-masalah Pemerintah tahun: 2004 - 2009
•Koordinator Program Pasca Sarjana Magister Ilmu Hukum Univ. Jayabaya tahun 2002 - 2006
•Pengelola STIE-YPPI Program S1 tahun: 2001 - 2005
•Kepala Unit Program Pasca Sarjana STIANI tahun 1999 - sekarang
•Sekretaris Direktur Univ. Satyagama Program MM Unit Arthaloka tahun 1995 - 1997
•Asisten Research Analisys Environmental Management Development in Indonesian, tahun: 1994 - 1996
•Sekretaris Direktur International Research Center tahun 1994 - 1996

Organisasi
•Wakil Ketua IWAPI tahun 2013 - 2017
•Sekretaris Fraksi Hanura MPR RI tahun 2013 - 2014
•Bendahara Fraksi Hanura DPR RI tahun: 2009 - 2013
•Sekretaris BAPPILU Partai Hanura tahun 2007 - sekarang
•Sekjen SRASI tahun 2003 - 2006

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.