Ads Top

Meutya Hafid, dari Presenter menjadi Politisi

MAJU terus Meutya! Kamu pasti bisa. Doaku, engkau tidak terjebak dalam sistem partai yang bobrok, tapi berjuanglah untuk perubahan bangsa dengan merubah pertama-tama kebobrokan partai. Aku mendukungmu karena aku tahu sepak terjangmu, kendati sedikit. God Bless!

Pendapat dalam kolom komentar di portal berita Kompas.com ini mewakili kekhawatiran para penggemar Meutya Hafid di seluruh Indonesia saat pencalegan dulu.

Selain merasa kehilangan karena wajah kenesnya hilang dari balik layartelevisi, juga mereka sangat mengkhawatirkan idealisme presenter ini tergerus setelah menjadi anggota Dewan.

Tentu saja kekhawatiran para penggemarnya ini cukup beralasan karena pengalaman sudah membuktikan. Saat berada di luar Senayan mereka bisa sangat lantang berbicara tetapi ketika sudah duduk dalam kursi empuk DPR malah terdiam atau malah terlibat korupsi yang lebih parah.

Meutya secara khusus sempat menggelar acara pamitan kepada rekan-rekannya sesama wartawan saat memutuskan maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2009.

"Saya untuk sementara nonaktif dari dunia kewartawanan," kata Meutya yang menjadi caleg nomor urut dua dari Partai Golkar pada daerah pemilihan Sumatera Utara I yang meliputi Kota Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai dan Tebing Tinggi.

Dalam sebuah kesempatan, Meutya mengaku menjadi politisi bukanlah cita-citanya, namun setelah melalui perenungan dan diskusi dengan berbagai pihak akhirnya ia memutuskan menerima tawaran dari partai berlambang beringin tersebut.

Ia membantah hanya latah atau ikut-ikutan terjun ke politik. Meutya mengaku memiliki idealisme serta visi dan misi yang jelas. Banyak rekan serta penggemarnya bertanya kenapa Golkar yang dipilih sebagai kendaraan politik. Meutya tampaknya sangat yakin dengan penilaiannya selama ini mengenai partai yang sangat berkuasa pada era Orde Baru itu.

Meutya punya alasan soal pilihannya ini. Menurut Meutya, Golkar adalah partai besar yang demokratis dan tidak bergantung pada kelompok tertentu.

"Golkar ini sosok partai sehat dan demokratis, juga memberi kesempatan luas pada kalangan muda," kata reporter yang pernah disandera oleh pejuang mujahidin Irak, Jaish al Mujahideen, selama 168 jam (15-22 Februari 2005) ketika sedang melaksanakan tugas jurnalistiknya itu.

Belakangan, angka 168 tersebut menjadi bagian judul buku kisah penyanderaannya yang diterbitkan Hikmah (Grup Mizan Pustaka), "168 Jam dalam Sandera".

Setelah tersendat menuju DPR karena kalah suara dari seniornya almarhum Burhanuddin Napitupulu dan sempat mencalonkan diri sebagai wakil bupati Binjai namun gagal, Meutya menjadi anggota DPR lewat pergantian antar waktu (PAW). Kinerja serta kiprahnya di DPR dan juga perhatiannya yang sungguh-sungguh atas aspirasi konstituennya,  membuat Meutya kembali melenggang ke Senayan untuk periode kedua, 2014-2019.

Kelahiran Bandung, Jawa Barat, 3 Mei 1978 ini sempat menclok di Komisi XI yang membidangi Keuangan, Perbankan dan Asuransi. Namun belakangan lebih banyak ditempatkan di Komisi I yang membidangi Pertahanan dan juga Komunikasi. Lantaran kisruh di tubuh Golkar kemudian Meutya terlempar ke Komisi VI  yang membidangi Perdagangan, Perindustrian, Investasi, Koperasi, UKM & BUMN, Standardisasi Nasional.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.