Ads Top

Melani Leimena, Politik Itu Seni Melayani

ROMBONGAN haji Al Amin Universal pada suatu masa mendapat tamu kehormatan. Melani Leimena Suharli, pemilik sekaligus Komisaris Utama travel haji dan umrah tersebut tidak tahu persis alasan tokoh tersebut memilih Al Amin untuk berangkat ke Tanah Suci.

Sejak itulah Melani kenal lebih dekat dengan sang tokoh, Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Dari sanalah Melani semakin tertarik dengan sosok SBY dan ketika Demokrat tengah merekrut orang secara besar-besaran, Melani dengan hakul yakin menjadi bagian dari partai berlambang mercy tersebut.

Melani senang berorganisasi sejak kecil. Sebagai pengusaha Melani pun masuk Kadin dan di situlah Melani dibujuk untuk masuk Demokrat. Karena pada waktu itu Demokrat baru menjalankan Kongres I di Bali untuk pemilihan ketua umun dan langsung menyususn kepengurusan.

“Akhirnya saya masuk ke Demokrat dan kebetulan saya lihat ada Pak SBY sebagai dewan Pembina. Dan saya pernah kenal beliau karena Pak SBY pernah ikut travel saya untuk naik haji,” ujar Melani. “Saya melihat sosok beliau yang jenderal, santun, lemah lembut, dan soft power. Saya pikir sesuai dengan ayah saya yang selalu menyikapi sesuatu dengan jalan damai sehingga saya setuju masuk dan menjadi pengurus sebagai wakil sekjen,” tambahnya.

“Ayah saya orangnya sangat tenang. Orang-orang sering memanggil beliau dengan nama Mr. Rustig yang dalam bahasa Belanda berarti tenang,” ujar putri kedelapan Pahlawan Nasional Johannes Leimena.

Melani tidak asal masuk partai alias bondo nekat, melainkan dengan pertimbangan yang sangat matang. Travel Al Amin yang sudah berkembang pesat sudah bisa ‘ditinggalkan’ dan saatnya anak-anak muda yang dipercayainya untuk mengelola perusahaan keluarga tersebut.

Alasan lainnya, Melani tak bisa mengingkari darah pejuang, aktivis organisasi, politik, diplomat dan juga jiwa sosial sang ayah. Secara tidak langsung, warisan sang ayah tersebut sudah dipupuknya sejak pertama kali keluar negeri pada 1965. Saat itu Melani menginjak usia SMP dan tampil dalam pentas tari secara tunggal di Rusia.

Peraih penghargaan Wanita Pembangunan dari Menteri Urusan Wanita (1998) ini sangat berkesan dengan jiwa pluralisme sang ayah termasuk soal agama. Melani satu-satunya yang memeluk agama Islam, sedangkan tujuh saudara lainnya memeluk agama Kristen. ”Ayah saya sangat pluralis dan tidak membedakan orang, agama dan ras,” ujarnya.

Pelajaran politik yang sangat diingat sampai sekarang dan seolah menjadi prinsip sejatinya adalah ucapan sang ayah, “Politik itu bukan alat kekuasaan, tapi politik itu seni untuk melayani.”

“Politik adalah seni melakukan pelayanan karena itu dalam politik bukan kekuasaan yang harus diraih tapi karena motivasi yang kuat untuk melayani, menjadi garam dan menerangi bangsa,” kata Melani mengutip mutiara hikmah sang ayah.

Pinsip hidup lainnya yang terus diteladani Melani dari sang ayah adalah kejujuran dan kebersahajaan dalam hidup. Prinsip ini memang sangat berat tetapi sangat nikmat dijalani. Pada masa kecil memang hidup seperti itu seolah menyiksa tetapi sangat dirasakan dan bermanfaat ketika hidup mandiri dan keluar dari rumah induk.

“Ayah dikenal sebagai orang yang lurus dan jujur seperti pemimpin kita di awal republik berdiri, misalnya soal perabot di rumah. Saya pernah mendengar dari orang terdekat ayah, Drs. Sabam Sirait, pernah suatu kali nasi goreng yang dimakan tidak habis. Ayah memasaknya kembali untuk dimakan pada siang harinya,” kata Melani mengenang.

Termasuk keputusan ayah menjual rumah di kawasan elite Menteng untuk kembali membeli rumah yang lebih sederhana di tempat lain. “Ayah juga pandai memisahkan urusan dan fasilitas dinas dengan urusan pribadi. Ia pantang mamakai fasilitas dinas untuk urusan pribadi,” kata Melani.

Melani, awalnya memandang politik itu kotor dan penuh intrik. Namun, seiring dengan bekal hidup dari sang ayah yang politikus, negarawan dan diplomat ulung, kesan itu sirna dengan sendirinya.

“Ternyata politik itu tidak kotor yang kotor itu individu-individunya. Berpolitik itu justru memberi manfaat untuk rakyat banyak. Seperti yang ayah saya selalu tekankan bahwa politik itu bukan alat kekuasaan, tapi etika untuk melayani,” kata Melani yang juga mengaku dapat ajaran kemandirian dari sang ibu, Wijarsih Prawiradilaga, seorang ningrat Sunda.

Sang ibu sangat membebaskan Melani untuk beraktivitas apapun. Apa saja boleh, tapi harus berguna tidak hanya untuk keluarga, tapi juga untuk masyarakat. “Ibu saya itu tinggi rasa kemanusiaannya. Keluarga harus saling tolong menolong dan akrab yang manfaatnya akan terasa sewaktu sudah besar. Ibu saya memiliki rasa sosial yang tinggi sehingga saya juga tidak pernah sulit untuk bersosialisasi misalnya pada waktu kampanye,” kisahnya.

Melani yang mengagumi Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Hillary Clinton mengajak kepada kaum perempuan untuk terjun ke organisasi dan dunia politik. Menurut Melani, kuota 30 persen untuk perempuan di parlemen harus dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi kebaikan dan kemaslahatan bangsa. “Perempuan yang mandiri, mendukung kemajuan bangsa,” ujar Melani.

Kisah terpilihnya Melani untuk jabatan strategisnya di Partai Demokrat dan Pimpinan MPR serba mengejutkan dan tidak terduga. Tawarannya datang lewat telepon. Suatu sore SBY menelepon Melani dan tawarannya tidak tanggung-tanggung untuk seorang ‘pemula’ dalam dunia politik.

“Bu Melani mohon kesediannya untuk membantu kami di Dewan Pembina,” demikian suara SBY di seberang sana.
“Siap, Pak,” jawab Melani setelah beberapa detik menahan rasa tidak percaya.

Dengan modal suara terbanyak di dapil Jakarta II, Melani dilantik menjadi anggota Dewan 1 Oktober 2009. Kemudian pada 2 Oktober menjadi anggota MPR. “Pada 3 Oktober Pak SBY mencalonkan saya menjadi wakil ketua MPR. Semuanya mengalir begitu saja,” ucap Melani.

Konstituen kembali memilih Melani untuk periode 2014-2019. Melani yang dikenal santun dan bersuara lembut kini berkiprah di Komisi VI yang membidangi masalah badan usaha milik negara,  perindustrian, koperasi dan usaha kecil menengah. Komisi ini sangat cocok dengan jiwa Melani yang memang berlatar pengusaha.

“Pengusaha, baik itu UKM atapun konglomerat untuk menjadi sukses itu harus memiliki mental tangguh, tak putus asa, dan terus berinovasi. Tak lupa juga untuk terus membangun jaringan di antaranya dengan terlibat dalam organisasi  hobi atau profesi,” pungkas Melani.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.