Ads Top

Ketika Oesman Sapta Odang Menangis

KACA mata hitam yang melindungi kedua mata Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta Odang (OSO) saat pemakan putra sulungnya Raja Sapta Sermando di Sandiego Hill, Karawang, Jawa Barat, tak bisa menyembunyikan kesedihan yang sangat mendalam. Sepanjang prosesi pemakaman, Selasa (2/6), mata OSO berkaca-kaca.

Kondisi kesehatan OSO yang belum pulih–tengah menjalani perawatan di Singapura–mengharuskannya terus dipapah putranya yang lain, Raja Sapta Aji (Aji), Raja Sapta Oktohari (Okto) dan Raja Sapta Erfian (Eyi).

Menurut OSO, putra sulungnya itu meninggal karena sakit. Sepengetahuannya, Yayang, demikian Raja Serman sering disapa, menderita liver. Namun OSO tidak tahu sampai sebegitu parah hingga terkena siroses atau kanker hati.

OSO memaknai peristiwa yang terjadi sebagai rahasia Tuhan. Anaknya yang begitu sangat muda dan tengah mencapai kemapanan bisnisnya lebih dulu dipanggil Tuhan. “Saya sendiri kan masih dalam pengobatan. Tuhan panggil dia duluan, saya operasi besar belum dipanggil. Ini kekuasan Tuhan, Tuhan panggil anak saya.”

Kondisi kesehatan Oesman Sapta Odang menurun dalam beberapa bulan terakhir dan harus dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura. Selama dirawat OSO dijenguk sejumlah tokoh seperti Surya Paloh, Agung Laksono dan Irman Gusman. Sedangkan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

OSO dikenal sangat dekat dengan wartawan. Pemilik kerajaan bisnis OSO Group ini sangat peduli dengan wartawan di lingkungan DPR. Tidak hanya memberikan bantuan kepada wartawan yang sakit tetapi OSO juga menyarankan kepada wartawan untuk bersatu dan saling peduli. “Harus ada sistem misalkan membuat jaminan kesehatan. Yang tak bisa membayar asuransi harus dibantu. Harus saling bantulah,” kata OSO dalam sebuah diskusi di Kompleks Parlemen, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Dalam kesempatan yang sama OSO juga meminta kepada lembaga termasuk MPR untuk menyalurkan iklan sosialisasi lembaga tidak hanya ke lembaga media besar atau yang sudah mapan.

“Tolong perhatikan media-media kecil juga harus diberikan iklan, yang penting sosialisasi tercapai. Jangan hanya beriklan di media besar. Ini bisa membantu wartawan-wartawan di media kecil juga. Mereka juga harus hidup,” kata OSO yang disambut tepuk wartawan.

##

Setidaknya saya melihat dua kali OSO menangis. Pertama ya saat pemakaman putranya. Kedua saat membuka cerdas-cermat Empat Pilar Berbangsa tingkat SMA di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (10/8). OSO mulai meneteskan air mata saat bercerita tentang masa kecilnya yang hidup dalam kemiskinan.

“Saya ini orang kampung. Pernah berkerja sebagai kuli kebun karet, jual rokok di pelabuhan Kalimantan Barat. Jadi, anak-anakku jangan malu dengan sejarah hidup karena itu adalah perjuangan. Saya jadi pimpinan MPR ini dari bawah juga anak-anakku. Kalian harus kerja keras dan berjuang untuk bangsa ini dan hanya dengan 4 Pilar MPR ini bangsa ini akan tetap utuh,” tutur Oesman sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya.

Oesman menyadari sekolah di daerah saat ini masih sulit. Bahkan di Kalimantan masih harus naik perahu menyeberangi sungai yang cukup jauh untuk mencapai sekolah. “Tapi dengan perjuangan dan kerja keras untuk mengikuti cerdas cermat di tingkat kecamatan, kabupaten, dan provinsi, maka sampailah kalian ke Gedung MPR RI ini. Jadi, sosialisasi 4 Pilar MPR RI ini harus terus dilanjutkan, agar anak-anakku nantinya menjadi generasi penerus bangsa yang pancasilais sejati,” ujarnya.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.