Ads Top

Ibnu "Trusmi" Riyanto, Tercipta di Tanah Suci (2)

SEPULANG menunaikan ibadah haji, Nur  Raliyah merasa ada yang aneh dengan mekanisme tubuhnya. Setiap pagi menjelang selalu mual dan kepala terasa pusing. Awalnya dianggap sakit biasa atau mungkin sekadar masuk angin. Namun itu berlangsung hampir dua bulan. Bulan ketiga Nur Raliyah mulai curiga dan memberanikan diri berkonsultasi  ke bidan.

Rusmia juga sudah curiga istrinya tengah hamil. Maka ketika istrinya mengajak serta untuk konsultasi ke bidan setempat, Rusmia pun turut serta mengawalnya. Perasaan Rusmia dan Nur Raliyah sepulang dari bidan hampir sama. Keduanya menerawang ke anak-anaknya yang berjumlah enam orang.

Anak pertama laki-laki kemudian anak kedua dan seterusnya perempuan. Mereka tumbuh dan berkembang  dengan karakternya masing-masing. Dan, berararti sebentar  lagi mereka akan memiliki anak yang ketujuh.

Nur  Raliyah dan Rusmia saling pandang. Keduanya sesekali saling berbalas senyum. "Pa, tambah anak lagi," kata Nur Raliyah. "Takut anak-anak malu apalagi jarak dengan anak ke enam saja tujuh tahun apalagi dengan yang lain."

Rusmia menjawabnya dengan senyum. Toh, istrinya tak memerlukan jawaban verbal. Nur Raliyah pun pada dasarnya senang hamil kembali. Rumah semakin ramai. Tak mempermasalahkan mengenai rezeki anak, toh Allah Swt. telah mengatur rezekinya masing-masing.

Tidak ada yang aneh selama proses kehamilan selama sembilan bulan. Nur Raliyah merasakan kehamilan itu sama dengan keenam anak sebelumnya. "Duh Gusti. Sehatkan janin ini. Semoga anak ini dapat menjunjung derajat orang tua." Nur Raliyah kerap berdoa sambil mengelus-elus perut buncitnya.

Pagi buta 1 Oktober 1988, bayi merah berjenis kelamin laki-laki menjerit ke bumi. Proses kelahirannya tidak rumit. Bahkan hampir saja Nur Raliyah melahirkan di becak yang mengantarkannya ke bidan yang jaraknya hanya sekitar sekilo dari rumah.

Nur Raliyah  boleh saja khawatir keenam anaknya malu memiliki adik kembali yang usianya terpaut sangat jauh. Tapi kekhawatiran itu tidak terbukti. Mereka malah saling berebutan mengasuh bayi yang setelah akikah resmi diberi nama Ibnu Riyanto. Kelak Ibnu kecil menjadi anak yang paling disayang oleh kakak-kakaknya dan seluruh keluarga.

Dari sinilah awal Ibnu Riyanto memiliki cerita....

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.